Rabu, 27 Juni 2012

PRAGMATISME MAHASISWA

Dikutip dari Suara Merdeka edisi 16 juni 2012

          Dapat mengenyam pendidikan tinggi merupakan dambaan bagi setiap orang. Bahkan ada yang berpandangan, kuliah adalah prestise yang dapat mendongkrak status sosial seseorang. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi pula status sosialnya di masyarakat. Perguruan tinggi tak ubahnya “sesembahan” yang menjadi tumpuan harapan bagi pemujanya, mahasiswa.
 Banyak orang tua menggantungkan harapan bagi anak mereka terhadap perguruan tinggi. Berapa pun biaya akan di keluarkan asal anak mereka bisa masuk perguruan tinggi. Harapannya, biaya itu akan tertebus jika sang anak berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak usai memperoleh gelar sarjana. Gelar sarjana dianggap sebagai jaminan untuk memperoleh pekerjaan.
Pemujaan terhadap gelar menggiring mahasiswa berfikir pragmatis. Konsentrasi mahasiswa bukan pada bagaimana menjalani proses kuliah serta mendalami disiplin keilmuan yang dimiliki semaksimal mungkin.
        Namun, lebih terfokus bagaimana mendapatkan gelar secepat mungkin sebagai syarat memperoleh pekerjaan. Dengan kata lain, mahasiswa lebih meningkatkan “hasil” dari pada “proses”.
Akhirnya banyak mahasiswa memilih jalan instan dalam memperoleh gelar atau ijazah. Tah heran jika saat ini marak terjadi kasus jual beli ijazah. Kuliah sejatinya tak semata untuk memperoleh gelar atau pekerjaan. Lebih dari itu, kuliah pada hakikatnya adalah untuk mengembangkan diri serta membangun kecakapan berpikir.
    Dengan kemampuan itu, mahasiswa diharapkan bisa mengaplikasikannya untuk melakukan perubahan di tengah masyarakat. Kecakapan berpikir meniscayakan seorang mampu mengurai dan memecahkan permasalahan yang terjadi di masyarakat.
         Tentunya, kemampuan itu tak bisa diperoleh secara instan. Melainkan melalui proses yang panjang dan serius. Orientasi mahasiswa mestinya bukan pada perolehan gelar atau ijazah yang mendorong mereka berpikir pragmatis, namun pada target penguasaan keilmuan dan pengembangan diri sebagai bekal untuk mengarungi hidup di masa datang. 

1 komentar:

  1. Semestinya mahasiswa juga mementingkan proses., bukan hanya sekedar hasil/nilai.. .tapi bagaimana jika ada dosen yang pada prakteknya malah mementingkan hasil perkuliahan saja tanpa memperhatikan proses belajar yang sudah di jalani?

    BalasHapus