Eksplorasi
terhadap hutan yang dimiliki negeri ini ternyata melampaui batas. Bagaimana
tidak? Dengan skala pelumatan hutan 300 kali lapangan sepak bola setiap jamnya,
tentu ini menjadi indikasi yang kurang baik bagi Indonesia. Memprihatinkan
memang, tapi inilah kondisi yang harus dilihat dan dirasakan bersama. Maraknya
ilegal loging dan kurangnya pengawasan pemerintah, semakin memperburuk kondisi
hutan di Indonesia. Kerusakan hutan di Indonesia 76-80 persennya karena perambahan
hutan secara liar (Forest Global Assesment 2000-2005, Tempo, 4 Mei 2007).
Hutan Kita
Sekarang...
Ini megindikasikan bahwa pemerintah Indonesai sebagai penanggung jawab utama atas kelestarian hutannya kurang berhasil dalam menjalankan tugasanya. Melihat kenyataan ini tentunya harus ada upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini. Apalagi melihat bahwa isu pemanasan global kini kian senter menggema. Upaya perbaikan ini tak harus menjadi beban pemerintah semata.
Namun peran
serta semua pihak akan sangat membantu keberhasilan upaya ini. Untuk masyarakat
pada umumnya, kesadaran untuk tidak menebang pohon sembarangan saja, sudah
cukup untuk menjadi titik awal penyuksesan perbaikan hutan kita. Kesadaran ini
jangan pernah diharapkan muncul dalam diri cukong-cukong dan orang-orang yang
mencari keuntungan sesaat dari ilegal logging yang mereka buat.
Di sinilah
peran pemerintah sangat berpengaruh. Pengawasan jual-beli dan pengiriman kayu
kita harus benar-benar di perketat. Selain itu penegakan hukum yang baik
sangatlah diperlukan. Kalau perlu pelanggar yang berkenaan dengan perusakan
lingkungan harusnya dihukum seberat-beratnya. Tentunya jika pemerintah mau
serius menangani masalah ini.
Hutan kita masa depan anak cucu kita Melihat urgensi keberadaan hutan, tentu kita tak akan membiarkan hutan yang dimiliki rusak. Baru-baru ini saja bencana benjir terjadi di mana-mana. Di Kalimantan, sungai Musi meluap dan membanjiri daratan di sekitarnya. Baru-baru ini, tanah longsor melanda daerah Padang. Ini sudah menjadi pertanda bahwa keberadaan hutan menentukan sekali kondisi di sekitarnya.
Hutan kita masa depan anak cucu kita Melihat urgensi keberadaan hutan, tentu kita tak akan membiarkan hutan yang dimiliki rusak. Baru-baru ini saja bencana benjir terjadi di mana-mana. Di Kalimantan, sungai Musi meluap dan membanjiri daratan di sekitarnya. Baru-baru ini, tanah longsor melanda daerah Padang. Ini sudah menjadi pertanda bahwa keberadaan hutan menentukan sekali kondisi di sekitarnya.
Akan lebih
banyak lagi ancaman-ancaman terhadap manusia karena rusaknya hutan. Belum lagi
bila menerawang ke masa yang akan datang. Melihat pengrusakan hutan di Indonesia
saat ini begitu besar maka dapat diprediksikan beberapa puluh tahun lagi
Indonesia akan mengalami kekeringan hebat. Dan parahnya lagi, Indonesia akan
menyusul sebagian besar negara-negara Afrika yang saat ini diliputi gurun
pasir.
Menurut para
arkeolog, sebelumnya Afrika adalah daratan yang diselimuti hutan dengan
berbagai varietas flora dan fauna. Kurang lebih kondisi Afrika saat itu mirip
Indonesia saat ini. Dengan mengaca dari sejarah ini, seharusnya bangsa ini
sadar. Bahwa bangsa ini tak dapat hidup dengan mengesampingkan alam. Waktu akan
terus berjalan seiring dengan semakin menuanya Indonesia.
Generasi
yang tua akan digantikan generasi yang lebih muda. Siklus ini akan terus
berjalan sampai nanti dunia ini hancur. Keberadaan generasi sekarang hanya
sekedar mengisi ruang-ruang kosong dalam sejarah umat manusia. Generasi ini tak
lantas menjadi berhak atas apa yang ada, apa yang ada sekarang adalah titipan
generasi setelah dan generasi sesudahnya lagi.
Cerita satu
generasi dalam ruang-ruang kosong sejarah itu tak ada artinya jika tidak ada
satu hal yang memang pantas untuk diingat oleh generasi-generasi mendatang.
Jika karena tak memiliki arti saja, generasi mendatang tak patut untuk
mengingat. Bagaimana jika generasi sekarang menyerahkan apa yang dititipkan
oleh generasi mendatang dalam kondisi yang menyedihkan. Tentu, generasi
sekarang ini sama sekali tak patut untuk diingat, atau bahkan generasi yang
akan datang berhak menghapus generasi tua ini dari memori sejarah dalam diri
mereka.
Hutan, tambang,
lautan, dan kekayaan alam yang ada bukanlah hak bangsa Indonesia saat ini.
Tetapi titipan yang harus dijagadan dilestarikan dengan baik. Akan lebih baik
jika dalam menjaga dan melestarikan, generasi saat ini mengadakan
pengembangan-pengembangan dalam rangka menjaga kuantitas dan kualitas
alamnya.

waaaahhh..... memang dasar org.na aja yg g mau ank cucunya liat hutan yg indah yaa.... msa hutan dah bgus2 tp d gundulin, dasar orang yg gak brtanggung jawab ya tee.... :)
BalasHapus